Mengapa Kapasitas Harddisk Kamera CCTV Cepat penuh? – Rasanya sebal, baru beli harddisk sekitar 3 bulan yang lalu untuk CCTV tapi kapasitas sudah penuh. Padahal kapasitas yang ditawarkan adalah 1 TeraBytes (1 TB). Kapasitas tersebut secara teori dapat menyimpan hingga sekitar 300 jam video kualitas terbaik, namun kok belum beberapa minggu kapasitasnya sudah penuh? Apa saya kena tipu sama penjualnya?

Mungkin kejadian ini banyak terjadi pada beberapa pengguna yang mempunyai kamera pengawas atau Surveillance Camera, dan cukup banyak pertanyaan ini muncul kepada kami. Mungkin penjelasan melalui telepon setidaknya masih kurang jelas, sehingga kami membuat artikel ini untuk Anda agar semakin mengerti mengapa harddisk menjadi cepat penuh.

Pada dasarnya ada 3 faktor utama yang menyebabkan harddisk menjadi cepat penuh yaitu :

  • Gelap / Terangnya gambar,
  • Resolusi lensa,
  • dan seberapa aktif aktivitas dari ruangan yang diawasi kamera cctv.

Mari kita coba jabarkan satu persatu.

Gelap / Terangnya Gambar

Mengenai Gelap / Terangnya Gambar, mungkin kita sering melihat pada video CCTV yang ditampilkan di suatu program acara televisi menampilkan gambar yang berkesan hitam-putih (grayscale). Padahal, jaman sekarang hampir semua CCTV adalah berwarna, namun kenapa banyak orang pilih kamera pengawas yang gambarnya hitam-putih? Mungkin ini menjadi pertanyaan.

Kami beranggapan bahwa orang-orang yang memiliki CCTV tersebut memang sengaja membuat kamera pengawasnya menjadi hitam-putih, bukan tanpa alasan tapi karena hitam-putih yang berkesan klasik tersebut lebih irit memory dibandingkan gambar yang kaya akan warna. Oleh sebab itu, untuk lebih meng-irit­­-kan kapasitas penyimpanan, mereka men­yetel kamera dengan modus grayscale (hitam-putih).

Untuk contoh konkritnya, silakan perhatikan tiga buah gambar dibawah ini.

Gambar 1 : Candi borobudur yang kaya akan warna

Gambar 2 : Landscape Candi Borobudur yang diambil dengan kekurangan cahaya.

Gambar 3 : Gambar Candi Borobudur yang diambil dengan modus Grayscale.

Ya ketiga gambar tersebut adalah gambar candi borobudur dengan tiga pilihan gambar (kaya warna, kekurangan cahaya, dan modus grayscale (hitam – putih).

Tapi tahukah Anda, bahwa gambar yang paling hemat ukuran filenya adalah gambar nomor 3 (tiga)? Gambar tersebut hanya memiliki warna hitam, putih dan abu-abu. Tanpa ada warna lain, silakan coba SAVE AS ketiga gambar tersebut untuk membuktikannya.

*Menurut Catatan kami, berturut-turut ukuran gambar ketiganya sebagai berikut :

  • Gambar 1 (kaya warna) = 37 KB.
  • Gambar 2 (kurang cahaya) = 31 KB.
  • Gambar 3 (hitam-putih) = 27 KB.

Jadi dengan menggunakan tampilan hitam-putih membuat rekaman CCTV menjadi hemat memory dan tidak memboroskan kapasitas harddisk / tempat penyimpanan.

Resolusi Lensa

Tidak hanya pemilihan modus gambar yang menjadi tolak ukur hemat tidaknya penggunaan memory pada suatu media penyimpanan, sebab resolusi lensa juga menjadi penyebabnya.

Resolusi lensa CCTV biasanya diatur dengan ukuran sebagai berikut HD (1920 x 1080 pixel), HD720p (1280 x 720 pixel), 960H (960 x 576 pixel) itu biasanya tercantum pada spesifikasi CCTV digital, adalagi resolusi CCTV analog yang biasanya berukuran TVL (Television Lines) yaitu menyatakan jumlah dan seberapa rapat garis horisontal yang dapat dihasilkan suatu CCTV analog di layar televisi. Maksimal resolusi yang diketahui tersedia di pasaran CCTV Analog adalah 700 TVL.

Untuk pemahamannya, mungkin kita akan berandai. Kamera 20 Megapixel tentu menghasilkan gambar dengan detail lebih baik dan lebih tajam dibandingkan kamera 5 MegaPixel. Betul? Oleh karena itu, karena menghasilkan gambar yang lebih sempurna maka hasil gambar dari kamera 20 Megapixel jauh lebih besar dibanding kamera 5 MegaPixel. Mohon maaf kami tidak bisa memberikan hasil foto 20 MegaPixel di halaman web ini karena akan memberat loading browser ke artikel ini. Tapi setidaknya Anda sudah paham akan hal ini.

Aktivitas dari Ruangan yang Diawasi Kamera CCTV

Kamera CCTV yang terhubung dengan DVR (Digital Video Recorder) untuk CCTV Analog atau NVR (Network Video Recorder) untuk IP Camera akan diberikan sistem sensor gerak. Sensor gerak ini berfungsi agar kedua perangkat tersebut dapat otomatis merekam situasi ruangan ketika terdapat aktivitas (gerakan) pada sekitar area yang diawasi.

Semakin aktif (banyak aktivitas) pada ruangan yang diawasi kamera CCTV, maka DVR atau NVR akan makin sering merekam citra / gambar ruangan tersebut. Hal inilah yang terjadi pada supermarket, karena banyaknya aktivitas (gerakan pembeli memilih barang) maka DVR atau NVR terus menyimpan citra yang diambil CCTV untuk disimpan pada Harddisk. Otomatis harddisk menjadi cepat penuh.

Kesimpulan

  • Ada 3 (tiga) hal yang menjadi faktor mengapa harddisk cepat penuh. Yaitu : resolusi lensa, gelap terangnya gambar, dan seberapa aktif ruangan yang diawasi kamera CCTV.
  • Gambar gelap dan hitam putih lebih irit memory / kapasitas penyimpanan dibanding gambar yang kaya warna.
  • Baik CCTV Digital / IP Camera serta CCTV Analog, semakin tinggi resolusinya maka semakin besar ukuran size dari gambar yang telah direkam.
  • Resolusi lensa CCTV digital / IP Camera yang tercantum pada spesifikasi umumnya adalah HD (1920 x 1080 pixel), HD720p (1280 x 720 pixel), 960H (960 x 576 pixel) dan lain sebagainya.
  • Resolusi lensa CCTV analog umumnya dalam satuan TVL (Television Lines) / garis TV, garis TV dihitung berdasarkan seberapa banyak jumlah garis horizontal dan seberapa rapat garis tersebut yang ditampilkan pada suatu televisi.
  • Semakin aktif aktivitas di suatu ruangan, maka alat perekam DVR / NVR akan semakin sering menyimpan citra ke dalam harddisk. Ini yang membuat kapasitasnya cepat penuh.

Mengenal HDCVI – HDCVI (High Definition Composite Video Interface) adalah singkatan dari “High Definition Composite Video Interface”. Produk HDCVI hadir karena adanya keterbatasan-ketebatasan baik yang ditemui pada IP Camera / CCTV Digital dengan CCTV Analog.

1. CCTV Analog memang memiliki harga perangkat yang lebih murah namun kualitas gambar yang dihasilkan harus sesuai dengan harga, pembeli tidak akan mendapatkan kualitas gambar seperti IP Camera jika mereka memilih CCTV Analog.
2. CCTV Digital (IP Camera) menawarkan kualitas gambar yang detail dan tajam (High Definition) namun karena termasuk kamera pengawas teknologi terbaru, harga IP Camera tidak dipungkiri mahal-mahal.

Atas keterbatasan yang ada pada CCTV Analog dan IP Camera, akhirnya hadir produk yang mampu menjembatani permasalahan tersebut, yaitu HDCVI (High Definition Composite Video Interface).

HDCVI menawarkan berbagai keuntungan sebagai upaya menjembatani antara kelemahan IP Camera dan CCTV Analog seperti :

1. Harga HDCVI memang sedikit lebih mahal dibanding CCTV Analog, tapi masih dibawah harga pasaran IP Camera (CCTV Digital).
2. Kualitas gambar lebih baik dibanding CCTV Analog, namun bisa disetarakan dengan kualitas gambar IP Camera (mampu HD 720p dan Full HD 1080).
3. Dapat mengirimkan transmisi gambar dari HDCVI ke DVR HDCVI melalui kabel coaxial yang biasanya digunakan pada CCTV Analog.
4. Tidak perlu membeli kabel tambahan untuk menghubungkan PTZ (Pan, Tilt, Zoom) HDCVI dengan PTZ Controller agar HDCVI dapat digerakkan mengikuti perintah. Hal ini disebabkan karena PTZ Controller dapat langsung berkomunikasi hanya melalui satu kabel yaitu Coaxial.

Itulah dia keuntungan dari HDCVI yang menawarkan efisiensi biaya (baik harga HDCVI yang lebih murah dibanding IP Camera, alat-alat tambahan pendukung yang hanya menggunakan perangkat yang mendukung di CCTV Analog) serta menawarkan nilai lebih dari yang sekedar didapatkan CCTV Analog (Seperti gambar berkualitas High-Definition seperti IP Camera).

Namun, sebagai sebuah produk selain penggunanya mendapatkan keuntungan, ada juga kelemahan yang mesti diketahui pembeli saat memilih HDCVI (High Definition Composite Video Interface) sebagai pilihan kamera pengawas mereka yaitu Isu Kompatibilitas.

Kompatibilitas adalah kemampuan suatu produk agar dapat berfungi dengan normal ketika disandingkan dengan perangkat pendukung lain. Maksudnya, ketika HDCVI digunakan untuk merekam maka sebaiknya DVR sebagai media penyimpanannya paling tidak harus sama merek / brandnya. Hal ini dikarenakan karena semua fungsi dari HDCVI dikomunikasikan melalui kabel coaxial (gambar, perintah PTZ Controller). Oleh sebab itu baik HDCVI, PTZ Controller dan DVR-nya sebaiknya harus satu merek.

Walaupun begitu HDCVI tetap pantas untuk Anda miliki sebagai solusi untuk mendapatkan kamera pengawas berharga terjangkau namun kualitas gambarnya setara dengan CCTV Digital / IP Camera yang sampai tulisan ini dibuat harganya masih melambung tinggi.

Kesimpulan

1. HDCVI merupakan (High Definition Composite Video Interface) yang memiliki arti mampu menghasilkan kualitas gambar High Definition walau menggunakan konektivitas seperti CCTV Analog.
2. HDCVI hadir karena melihat berbagai keterbatasan baik yang ada di IP Camera ataupun CCTV Analog.
3. Keterbatasan CCTV Analog adalah kualitas gambar yang masih belum mampu menandingi IP Camera yang sudah Full High Definition (Full HD).
4. Keterbatasan CCTV Digital / IP Camera adalah harga yang mahal karena merupakan teknologi yang baru booming di dunia Kamera Pengawas.
5. HDCVI menawarkan berbagai keuntungan seperti :
a. Harga HDCVI diantara harga IP Camera – CCTV Analog.
b. Kualitas gambar Full HD walaupun menggunakan transmisi gambar seperti CCTV Analog (menggunakan kabel coaxial).
c. Tidak perlu membeli kabel untuk menghubungkan HDCVI tipe PTZ (Pan, Tilt, Zoom) dengan PTZ Controllernya.
6. Walau menawarkan keuntungan, produk HDCVI juga memiliki kekurangan yaitu kompatibilitas.
7. HDCVI dan DVR (HDCVI) terkadang tidak bekerja apabila kedua merek perangkat tidak sama. Atau malah memaksa menggunakan CCTV Analog dengan DVR HDCVI padahal gambar yang disorot CCTV Analog tidak dapat ditampilkan DVR (HDCVI) walaupun satu merek.

Mengenal HD-TVI – HD-TVI merupakan singkatan dari High Definition – Transport Video Interface. Maksud dari singkatan tersebut adalah sebuah perangkat yang mampu mengalirkan / mentransmisikan video berkualitas gambar definisi tinggi. Perngakat HD-TVI ini sendiri digunakan sebagai kamera pengawas (Surveillance Camera) untuk penggunaan gedung atau hunian.

Sebenarnya HD-TVI ini hadir untuk menyelesaikan permasalahan yang muncul pada HD-SDI yaitu :

  1. HD-SDI terbatasi jarak hingga 150 meter agar dapat menghasilkan gambar kualitas Full HD (1080p) atau HD (720p) dengan sempurna.
  2. Mensyaratkan penggunaan kabel Coaxial Cable berkualitas tinggi.
  3. Tidak stabilnya transmisi video yang disalurkan HD-SDI.
  4. Masalah kompatibilitas yang terjadi pada HD-SDI yaitu mensyaratkan Camera HD-SDI dan DVR (HD-SDI) yang satu merek.
  5. Jika ingin menghubungkan melalui kabel lain seperti RS-485 atau twisted cable perlu perangkat tambahan berupa Converter.
  6. DVR (HD-SDI) tidak bisa melakukan penerimaan gambar dari resolusi CCTV (HD-SDI) yang berbeda, sebagai contoh : CCTV “A” (1080p), CCTV “B” (720p) penggabungan operasi CCTV dengan resolusi yang berbeda seperti contoh tidak dapat dilakukan di waktu yang sama.

Karena berbagai masalah tersebut hadirlah HD-TVI (High Definition Transport Video Interface) yang dibuat oleh TechPoint pada tahun 2012 dan chipsetnya sudah dijual kepada Intersil, serta Industri manufaktur Tiongkok : Hikvision, dan HanBang. Selain itu, karena desain Chipsetnya bersifat terbuka dan menuntut sistem standar yang dibuat oleh TechPoint maka siapapun dapat memasang perangkat HD-TVI sendiri walaupun brandnya berbeda. Inilah keunggulan pertama dari HD-TVI dapat dipasang walaupun Camera CCTV (HD-TVI) dan DVR-nya memiliki merek yang berbeda.

Selain masalah kompatibilitas yang rupanya mampu diselesaikan oleh HD-TVI, ada permasalahan lain yang rupanya bisa dituntaskan oleh HD-TVI yaitu penggunaan kabel dan jarak yang semakin ditingkatkan. Bagi yang menggunakan Cable Coaxial maka jarak yang bisa ditoleransi oleh HD-TVI adalah 500 meter, atau setengah kilometer. Jarak yang jauh bila dibandingkan HD-SDI yang terbatas hanya mencapai 150 meter.

Selain itu penggunaan kable Coaxial tidak harus mensyaratkan yang berkualitas, sebab cukup menggunakan kabel Coaxial jenis kualitas rendah sekalipun pengguna tetap dapat menikmati kualitas gambar full High Definition 1080p dan HD720p tanpa adanya penurunan resolusi gambar atau berkurangnya kestabilan transmisi gambar yang diterima oleh DVR.

Selain itu, dukungan penuh pada CCTV jenis HD-TVI juga disediakan yaitu adanya socket RS-485 dan twisted cable jika membeli DVR untuk kamera jenis HD-TVI. Tentu hal ini akan sedikit berbeda jika Anda memilih menggunakan HD-SDI karena perlu menggunakan perangkat tambahan / converter untuk mendukung kedua socket tersebut.

Chipset HD-TVI yang termasuk teknologi terbaru juga bisa menyelesaikan kelemahan pada HD-SDI yaitu DVR tidak dapat beroperasi jika CCTV-CCTV yang terhubung menggunakan resolusi gambar yang berbeda. Jadi ketika DVR (HD-TVI) ditantang oleh CCTV yang beresolusi berbeda, DVR akan tetap beroperasi dan menyimpannya tampilan gambar dalam bentuk format digital didalam harddisk.

Itulah pengenalan terhadap HD-TVI dengan menggunakan contoh perbandingan dari HD-SDI, artikel yang bermodel komparasi ini sengaja dibuat agar lebih memudahkan pembaca untuk memahami sebenarnya HD-TVI ini seperti apa dan apa saja nilai lebih dari produk ini yang ditawarkan kepada pembaca.

Kesimpulan

  1. HD-TVI merupakan kependekan dari High Definition – Transport Video Interface.
  2. HD-TVI hadir sebagai produk terbaru dari TechPoint tahun 2012 untuk mengatasi berbagai batasan yang muncul di HD-SDI.
  3. Masalah yang dapat dituntaskan oleh HD-TVI seperti :
    a. Kompatibilitas : HD-TVI dapat digunakan walaupun CCTV (HDTVI) dan DVR (alat perekam HD-TVI) menggunakan brand yang berbeda.
    b. Persyaratan : Kabel Coaxial yang digunakan pada HD-TVI tidak mensyaratkan yang mahal-mahal atau yang berkualitas tinggi.
    c. Keterbatasan : Mampu dihubungkan antara CCTV (HDTVI) dan DVR (HDTVI) walau jarak keduanya lebih dari 150 meter. Sebab batas toleransi HD-TVI adalah 500 meter / setengah kilometer.
    d. Konektivitas : Koneksi menggunakan RS-485 dan twister cable tidak harus menggunakan perangkat tambahan. Sehingga dapat dihubungkan tanpa melalui converter.
    e. Multi-resolusi : Mampu menerima gambar dari berbagai resolusi, sehingga CCTV (HD-TVI) tidak perlu disetting dengan resolusi gambar yang sama untuk menghemat memori di media simpan DVR (HD-TVI).

Mengenal Perbedaan antara HD-TVI vs HDCVI – Sebelum mengetahui perbedaan diantara keduanya, seyogyanya Anda bisa mengenal terlebih dahulu apa itu HDCVI dan apa yang dimaksud HDCVI. Sebab jika dilihat secara sepintas kedua perangkat ini sama. Baik sama-sama menggunakan Coaxial Cable untuk jalur transmisi datanya (audio, video, PTZ controller) dan juga sama-sama menghasilkan kualitas gambar Full HD (1080p) / HD (720p).

Memang patut diakui bahwa HD-TVI dan HDCVI bila dilihat perbedaannya cukup tipis. Bahkan jika Anda mencari HD-TVI di search engine Google, maka hasil penelusuran mengenai HD-TVI malah merujuk ke artikel bagian HDCVI. Ini bukanlah salah Google ataupun orang-orang yang menganggap HD-TVI itu sama seperti HD-CVI. Tapi perlu Anda ketahui bahwa masing-masing baik Hd-TVI ataupun HDCVI punya kelebihan dan kelemahannya masing-masing. Inilah yang akan kita jadikan poin-poin untuk membedakan masing-masing diantara keduanya.

Beberapa perbedaan antara HD-TVI dan HDCVI

1. Perbedaan Toleransi Jarak.

Jika Anda menggunakan RS-485 untuk penggunaan jaringan DVR maka ada perbedaan jarak yang dapat ditoleransi diantara keduanya. Jika menggunakan HDCVI, maka jarak maksimum yang dapat ditoleransi oleh perangkat ini untuk menghasilkan gambar tanpa ada penurunan kualitas High-Definition maka panjang kabel twisted tidak melebihi 100 meter.

Namun, jika Anda memilih menggunakan HD-TVI maka Twisted Cable yang diperlukan untuk menghubungkan DVR dan CCTV-nya disanggupi hingga mencapai 200 meter atau 2 kali lipat dari HDCVI.

2. Mampu Multi Real-Time Preview walau Resolusinya Beda

Ini adalah perbedaan yang cukup telak yang dialami oleh keduanya, sebab keterbatasan HD-CVI untuk menerima sinyal gambar Real-Time / Live / Secara langsung yang berbeda resolusi sangat banyak dikeluhan oleh sebagian besar pengguna. Sebagai contoh ketika menggunakan HDCVI Outdoor maka resolusi / kualitas gambar yang dibutuhkan adalah tinggi untuk melihat detail dengan jelas karena ruangan yang luas.

Sebaliknya, jika dipasangkan dalam ruangan maka membutuhkan resolusi yang lebih rendah karena ruangan biasanya tidak seluas outdoor. Sehingga konfigurasi diantara dua CCTV Indoor dan Outdoor berbeda (Indoor lebih rendah dan outdoor resolusi tinggi).

Jika menggunakan HD-CVI, penggunaan camera berbeda resolusi tidak bisa ditoleransi sehingga DVR menjadi seolah-olah tidak bekerja. Namun jika Anda menggunakan HD-TVI, perbedaan resolusi menjadi kemampuan yang tak mampu ditandingi HD-CVI. Jadi berapa pun settingan / pengaturan resolusi di masing-masing CCTV, DVR (HD-TVI) dapat memberikan tayangan real-time / langsung tanpa ada masalah.

3. Kompatibilitas

Seperti halnya HD-SDI, HDCVI mempunyai kelemahan dalamhal kompatibilitas. Anda tidak bisa memasang CCTV (HDCVI) dan DVR (HDCVI) yang berlainan merek. Sebab muncul perbedaan chipset yang didukung masing-masing perangkat. Oleh sebab itu perhatikanlah DVR (HDCVI) atau CCTV (HDCVI) yang Anda beli, sebaiknya mendukung chipset yang sama merek ataupun modelnya.

Lain halnya jika Anda memilih HD-TVI, apapun model chipset yang digunakan pada DVR (HD-TVI) maka dapat dipastikan camera CCTV (HD-TVI) akan mampu mentransmisikan dengan baik dan tanpa kendala. Dan bahkan hebatnya walaupun keduanya beda brand. Hal ini dikarenakan chipset yang tertanam pada HD-TVI sudah mengikuti standar perusahaan TechPoint di Amerika Serikat. Apapun merek / brand dari CCTV (HD-TVI) atau DVR (HD-TVI), pasti akan tetap mampu beroperasi tanpa kendala dan pemasangannya tidak akan menemui kesulitan berarti.

Itulah pertarungan antara kedua perangkat sistem kamera pengawas HD-TVI dengan HDCVI. Mudah-mudahan bermanfaat dan semakin menambah wawasan Anda mengenai perbedaan diantara keduanya melalui kelebihan dan kekurangannya.

Kesimpulan

  • HDCVI dan HD-TVI walaupun sama-sama menghasilkan gambar High Definition 720p dan 1080p melalui Coaxial Cable, namun keduanya memiliki beberapa perbedaan.
  • Perbedaan utama adalah jarak maksimum antara DVR (alat perekam) dengan camera, pada HDCVI / High Definition Composite Video Interface maksimum jarak yang dapat ditoleransi untuk penggunaan RS-485 dengan kabel twisted adalah 100 meter. Namun jika menggunakan HD-TVI / High Definition Transport Video Interface, jarak bisa diperpanjang hingga 2 kali lipat (200 meter).
  • Multi Real-Time Preview atau tampilan secara langsung dari beberapa kamera CCTV sekaligus walau setelan masing-masing kamera berbeda-beda didukung oleh HD-TVI. Namun jika menggunakan HDCVI, resolusi yang berlainan di masing-masing kamera tidak akan bisa ditampilkan oleh DVR (HDCVI).
  • Kompatibilitas menjadi keluhan utama pengguna jika memilih HDCVI, mereka terpaksa membeli camera HDCVI dan alat perekamnya (HDCVI) yang satu merek sebab jika berlainan akan berpotensi DVR-nya tidak berfungsi. Di lain pihak, HD-TVI justru menawarkan kepada penggunanya untuk membeli DVR (HD-TVI) dan CCTV-nya berlainan merek karena chipset (sebagai otak di DVR) menggunakan standar baku dari TechPoint yang digunakan oleh seluruh pabrikan yang memproduksinya.

Cara Pasang atau Menghubungkan CCTV dan DVR – Kini Anda sudah membeli CCTV dan Alat perekamnya (DVR / NVR) yang baru, kini agar semua perangkat yang telah dibeli dapat digunakan maka Anda perlu memasangkan sistem kamera pengawas ini di gedung atau hunian Anda. Untuk lebih cepatnya Anda bisa meminta tempat penjual CCTV untuk membantu memasangkan sistem kamera pengawas di gedung atau hunian Anda. Namun, bagi Anda yang tidak suka privasi di gedung atau di hunian terganggu, sebenarnya Anda bisa belajar untuk memasangkannya sendiri.

Artikel singkat ini akan membantu Anda untuk memasangkan CCTV Analog di gedung atau hunian Anda.

Alat dan bahan yang perlu dipersiapkan.

1. Obeng baik berbentuk min / plus, digunakan untuk memasangkan CCTV di dinding ataupun langit. Serta digunakan juga untuk memasang harddisk di DVR.
2. Kabel Coaxial, kabel ini mempunyai serabut dan dibagian tengah ada tembaga besar digunakan untuk menghubungkan CCTV dengan DVR. Pastikan juga untuk memilih kabel Coaxial yang dirangkai dengan kabel listrik untuk CCTV-nya.
3. Konektor BNC digunakan untuk memudahkan penyambungan kabel dengan CCTV dan DVR.
4. Untuk memudahkan pemasangan Konektor BNC, Anda bisa membeli Tang Crimping BNC. (opsional)
5. Mungkin juga diperlukan bor untuk membolongkan dinding atau langit-langit saat memasangkan CCTV di suatu ruangan.
6. Stop kontak untuk mengalirkan listrik ke CCTV. Namun jika CCTV memiliki fitur PoE (Power over Ethernet), CCTV dapat hidup cukup dengan menyambungkannya dengan kabel UTP yang sudah dialiri arus listrik dari sebuah adaptor.

Setelah alat dan bahan dipersiapkan, selanjutnya masuk ke langkah pemasangan CCTV ke DVR.

a. Bagian luar Kabel Coaxial dikupas sekitar 1 cm agar serabut tembaga (seperti rambut) dapat terlihat. Kemudian serabut ditekuk ke belakang.

b. Buang selongsong bagian dalam (biasanya berwarna putih) agar kawat tembaga tebalnya dapat terlihat.

c. Pasang f konektor dengan memutar searah jarum jam sampai seluruh serabut tembaga tertutup. Kemudian pasang bagian lain agar konektor BNC-nya terlihat seperti gambar dibawah.

d. Pasang colokan listrik dari adaptor ke CCTV.

e. Tempatkan CCTV dilokasi atau area yang ingin diawasi. Lakukan bor dan sekrup pada dinding atau langit-langit, agar kamera pengawas dapat terpasang dengan baik dan pastikan tidak jatuh.

f. Hubungkan Kabel Coaxial yang sudah menjadi colokan BNC agar terhubung antara CCTV dan DVR.

g. Selanjutnya, bongkar body DVR menggunakan obeng untuk memasangkan harddisk.

h. Pastikan mendapatkan kedua colokan (biasanya warna merah) dan memasangkan harddisknya sesuai gambar dibawah.

i. Tutup kembali body, lalu tancapkan adaptor untuk DVR dan CCTV dengan stop kontak listrik. Maka kamera pengawas sudah bisa digunakan.

Mengenal Lensa CS-Mount dan C-Mount – Setelah sebelumnya mengenai jenis-jenis lensa berdasarkan nilai f (focal length) titik fokus, serta mengenai lensa dalam bentuk turunannya, kini Anda perlu mengetahui istilah dalam dunia lensa pada Kamera CCTV.

Istilah yang akan pertama kali kita bahas soal lensa pada kamera CCTV adalah CS-Mount dan C-Mount. Istilah ini sendiri merujuk pada jarak antara lensa dengan sensor CCD /CMOS pada kamera pengawas. Jarak ini dinamakan flange back yang diatur sesuai spesifikasi dari JIS (Japan Industrial Standard).

Karena merupakan jarak antara lensa dengan sensor, C-Mount sendiri memiliki jarak sekitar 17.526 mm dari sensor. Sementara itu, untuk CS-Mount memiliki jarak 12.5 mm. Diketahui, CS-Mount lebih pendek 5 mm dibanding C-Mount.

Lalu apa yang terjadi ketika kita membeli lensa C Mount yang memiliki alur memutar sekitar 17.526 mm dipasangkan ke CCTV / Kamera berjenis CS-Mount (12,5 mm)? Mungkin lensa tidak bisa dipasang karena alur di kamera lebih pendek (CS-Mount) daripada lensanya (C-Mount). Disinilah masalahnya, untuk mengatasinya Anda tidak perlu membeli lensa lagi yang berjenis CS-Mount, akan lebih baik Anda membeli ring converter/adapter CS-Mount ke C-Mount. Seperti gambar dibawah ini.

Namun jika yang terjadi adalah sebaliknya, kamera dengan tipe C-Mount dipasangkan lensa berjenis CS-Mount (yang lebih pendek 5 mm) maka kamera tidak bisa digunakan karena gambar yang dihasilkan akan buram karena secara fisik lensa CS-Mount tidak bisa mendekat ke sensornya/CCD / CMOS. (Bila dipasang ada penambahan / + 5mm.

Walaupun begitu, untungnya saat ini semua kamera CCTV menggunakan alur berjenis CS-Mount. Sehingga Anda hanya perlu membeli coverter / adapter jenis CS-Mount ke C-Mount atau Anda bisa memilih untuk membeli lensa berjenis sama (CS-Mount) agar tidak perlu menggunakan converter.

Mengenal Berbagai Lensa CCTV

Seperti yang sudah disebutkan dalam artikel sebelumnya Tips Membuat Gambar dari CCTV Terlihat Bagus, bahwa salah satu yang mempengaruhi kualitas gambar yang dihasilkan suatu kamera pengawas / CCTV adalah Lensa. Lensa sendiri bertugas untuk memfokuskan gambar agar tepat mengenai sensor.

Jika pemfokusan lensa kepada objek yang ingin ditangkap tidak tepat, maka akan terjadi Blur / gambar buram. Hal inilah yang menyebabkan lensa menjadi salah satu faktor untuk menghasilkan gambar yang bagus.

Perlu Anda ketahui, sebenarnya pembagian jenis-jenis lensa sendiri dilakukan karena adanya perbedaan Focal Length (jarak titik fokus) di masing-masing jenis lensa. Oleh karena itu, untuk mengetahui jenis lensa apakah yang dipasang dalam CCTV maka Anda bisa mengetahui berapa nilai focal length yang tercantum pada spesifikasi CCTV. Umumnya focal length ditulis dalam satuan mm (milimeter).

Nah nilai f dalam satuan milimeter inilah yang pada akhirnya dapat membuat kamera menjadi punya jenisnya tersendiri. Yaitu jenis Fixed Lens, Varifocal Lens, Zoom Lens.

Namun, pembagian Lens berdasarkan nilai Focal Length sendiri tidaklah bersifat mutlak, karena belakangan muncul Jenis Lensa baru yang berdasarkan bentuk dan penempatan lensanya seperti : Pinhole Lens, Fisheye Lens, dan juga Board Lens.

Untuk mengetahui masing-masing jenis-jenis lensa diatas, mari kita coba lihat penjabaran jenis-jenis lensa ini satu persatu.

1. Fixed Lens


Seperti namanya, Fixed = Tetap / Permanen, Lensa Fixed untuk kamera cctvFixed Lens ini sendiri mempunyai arti bahwa nilai f (Focal Length) tetap atau tidak berubah. Jika suatu lensa dituliskan seperti ini : f = 3.6 mm / f = 6 mm / f = 8 mm / f = 12 mm artinya bahwa jarak titik fokus lensa hanya seperti yang disebutkan. Untuk memudahkan pemahaman, jika nilai f-nya kecil maka sebuah objek akan terlihat jauh. Namun jika nilai f-nya semakin besar, objek yang jauh terlihat dekat. Kelemahan pada fixed lens adalah karena nilai f­-nya tetap, maka saat ingin mengubah nilai f pada lensanya, pengguna diharuskan mengganti dengan lensa yang nilai f­-nya berbeda (copot lensa).

2. Varifocal Lens


Berbeda dengan Fixed Lens yang mempunyai nilai f yang Lensa varifocal yang dapat diatur nilai f titik fokus lensanya dengan menggeser secara manual untuk cctvtetap maka pada Varifocal Lens, nilai f-nya dapat diatur oleh penggunanya. Cukup dengan memutar bagian leher lensa, maka nilai f (jarak titik fokus lensa) berubah. Varifocal Lens sendiri merupakan kepanjangan dari Variabel Focal Length Lens. Yang artinya kurang lebih adlah jarak titik fokus lensanya dapat diatur sesuai keinginan pengguna. Umumnya varifocal length memiliki nilai seperti : f = 4 – 9 mm.

3. Zoom Lens


Kelemahan dari Varifocal Lens adalah jangkauan dari nilai f-nya kecil, zoom lens untuk cctv merek samsungsehingga tidak dapat digolongkan sebagai zoom lens. Karena syarat untuk mendapatkan 1x Zoom adalah jika nilai f-nya adalah selisih 10 mm. Contoh 1x optical zoom dengan nilai f = 8 – 18 mm. Contoh ini digolongkan memiliki Optical Zoom 1x. Untuk melakukan perubahan perbesaran titik fokus, lensa ini menggunakan semacam motor. Sehingga terkadang disebut sebagai Motorized zoom lens. Besaran nilai f-nya sendiri terkadang tercantum sebagai f = 6 – 60 mm, yang artinya memiliki optical zoom sebanyak 10x.
Sedangkan pada Varifocal Lens, nilai f­-nya sama sekali tidak selisih 10 mm (minimal). Walaupun pada beberapa kasus ada Varifocal Lens yang memiliki selisih 10 mm namun tidak digolongkan Zoom Lens karena perbesaran harus dilakukan secara manual (memutar leher lensa dengan tangan). Padahal dalam dunia CCTV, yang dimaksud Zoom Lens adalah yang mampu melakukan perbesaran titik fokus lensa secara otomatis walaupun dikendalikan melalui sebuah alat / semacam remote controller.

Itulah dia macam-macam jenis lensa berdasarkan penggolongan besaran jarak titik fokus lensa f (focal length), sekarang kita masuk ke jenis-jenis lensa berdasarkan bentuk dan penempatannya.

Jenis lensa berdasarkan bentuk dan penempatannya dijadikan satu karena sebenarnya merupakan produk turunan dari ketiga lensa yang sudah disebutkan sebelumnya. Berikut ini penjelasannya.

a. Board Lens


Digolongkan sebagai lensa CCTV yang berdasarkan letak penempDome camera CCTV menggunakan lensa jenis board yang menjadi satu dalam rangkaian sirkuti CCTVatan lensa pada bagian dalam CCTV. Sebagai contoh, CCTV berbentuk dome camera (kubah). Kamera berbentuk setengah lingkaran (kubah) tersebut menempatkan lensanya pada bagian dalam CCTV (berlindung didalam kaca). Selain itu, Board Lens juga tergolong sebagai produk turunan dari Fixed Lens karena umumnya mempunyai besaran jarak titik fokus lensa (focal length) yang tetap atau tidak diubah.

b. Pinhole Lens


Merupakan salah satu lensa yang memiliki ukuran lensa yang sangat Lensa pinhole untuk kamera CCTVkecil, seperti namanya : lensa seukuran jarum. Gambar yang ditampilkan mungkin akan kurang cahaya namun jika disetting hitam-putih, kamera CCTV akan menampilkan gambar yang berkesan dramatis. Seperti halnya board lens, lensa ini juga termasuk salah satu turunan dari Fixed Lens yang mempunyai nilai f = jarak titik fokus lensa yang tetap. Untuk lensa jenis ini cukup jarang dipakai, namun tetap bisa digunakan untuk menyembunyikan kamera diantara sela-sela tembok atau langit-langit.

c. Fisheye Lens


Pernah melihat di sudut tembok ruangan ada sebuahFish eye lens untuk kamera cctv kaca yang berbentuk cembung? Apakah gunanya agar orang-orang tidak saling tabrak pada ruangan yang menikung tajam? Atau pernah melihat adanya cermin cembung yang ada di ATM? Tahukah anda, bahwa kedua cermin cembung tersebut adalah sebuah CCTV? Jenisnya adalah fisheye, namun pada lensanya ditambahkan semacam logam yang tidak tembus pandang namun memantulkan bayangan seperti kaca bila dilihat dari luar. Digunakannya lensa fisheye ini sendiri semata-mata untuk mengelabui saja, gambar yang dihasilkan bersifat panoramik atau melebar / wide. Umumnya lensa ini adalah Fixed Lens yang nilai f-nya tidak dapat berubah.

Tips Membuat Gambar dari CCTV Terlihat Bagus – Untuk menghadirkan tampilan gambar yang bagus saat disaksikan pada monitor atau layar televisi, maka kamera CCTV harus memenuhi ketentuan persyaratan yang wajib untuk diketahui bagi setiap calon pembeli. Ini dilakukan agar kamera CCTV yang dibeli oleh pembeli adalah benar tepat sesuai dengan kebutuhan rungan / area yang ingin diawasi. Jangan sampai ada keluhan, kok gambarnya buram atau gelap ketika CCTV sudah terpasang. Tentu ini mengecewakan bukan?

Oke, sebenarnya apa saja sih persyaratan kamera CCTV yang dapat menghasilkan gambar bagus :

1. Ukuran sensor, saat ini kamera pengawas menyediakan dua pilihan ukuran sensor, yaitu 1/4 inchi dan 1/3 inchi. Tentu saja dengan ukuran sensor yang besar maka tampilan gambar menjadi lebih bagus. Selain itu, memilih ukuran sensor yang besar yaitu 1/3 inchi akan sangat membantu ketika kondisi ruangan / area yang ingin diawasi CCTV berkondisi agak gelap. Sebab pixel penangkap gambar yang terdapat pada sensor ukuran besar punya kepekaan cahaya yang lebih tinggi.

2. Jenis sensor. Saat ini sensor penangkap gambar yang menjadi mata dalam kamera CCTV tersedia dalam 2 jenis yaitu sensor CCD dan CMOS. Kamera pengawas dengan sensor CCD lebih banyak ketimbang sensor CMOS hal ini dikarenakan teknologi CCD sendiri merupakan teknologi yang sudah lama digunakan dalam kamera digital atau kamera video. Sementara sensor CMOS merupakan teknologi baru dan hingga saat ini kamera CCTV dengan sensor CMOS masih berharga cukup mahal. Untuk persoalan kualitas gambar, mari kita bahas satu-persatu.
a. Sensor CCD sepertinya lebih cocok digunakan untuk indoor karena mampu menangkap gambar dalam kondisi kurang cahaya dan setiap pixel sensor memiliki kualitas gambar yang sama. Sehingga tidak akan terjadi gambar menjadi agak gelap pada area tertentu karena antara sensor dengan konverter (pengubah sinyal analog menjadi sinyal digital untuk menangkap gambar) terpisah.
b. Sensor CMOS sendiri lebih cocok untuk outdoor, alasan sederhana karena sensor ini merupakan teknologi terbaru yang dapat memproses gambar dengan lebih cepat. Maksudnya antara gerakan nyata dengan gerakan yang terekam oleh sensor CMOS tidak ada keterlambatan (seperti gerakan aslinya). Selain itu, penggunaan CCTV dengan sensor CMOS (yang biasanya ada di semua IP Camera) tidak membutuhkan daya dan tegangan listrik yang besar. Sehingga sangat cocok jika memilih kamera outdoor jenis sensor CMOS untuk sebagai CCTV Outdoor untuk menjaga keamanan luar ruangan selama 24 jam non-stop.

3. Lensa. Lensa yang tepat juga dapat berpengaruh terhadap kualitas gambar yang dapat ditampilkan CCTV. Sebab lensa bertugas untuk memfokuskan cahaya agar mampu ditangkap oleh sensor. Sebenarnya ada beberapa tipe lensa yang ada pada kamera CCTV namun agar lebih jelas tentang lensa ini akan dibuat dalam satu artikel di Mengenal Berbagai Lensa CCTV.

Mengenal Berbagai Tipe Kamera CCTV – Camera Closed Circuit Television atau yang biasa dikenal sebagai CCTV selalu digunakan untuk mengawasi suatu ruangan dari tindakan merugikan. Seperti pencurian, pengerusakan, dan lain sebagainya. Karena begitu pentingnya CCTV ini, sehingga membuat berbagai industri elektronik ramai-ramai mengisi celah kebutuhan akan keamanan suatu ruangan atau area yang ingin diawasi dengan meluncurkan produk CCTV terbarunya.

Yang jadi masalah dalam hadirnya produk CCTV tersebut ialah adanya beragam bentuk, peruntukkan serta fitur yang membuat seorang pelanggan akhirnya menjadi bingung sehingga ada kemungkinan salah membeli CCTV sesuai peruntukkannya. Nah dalam artikel ini kami berusaha untuk mengenalkan kepada Anda berbagai tipe kamera CCTV yang banyak dijual dan beredar dipasaran. Berikut ini ulasannya :

1. Kamera CCTV Berdasarkan Lokasi Penempatannya

Salah satu pertanyaan awal yang selalu ditanyakan penjual ketika Anda berniat untuk membeli CCTV ialah menanyakan apakah kamera yang dibutuhkan untuk didalam ruangan (indoor) atau diluar ruangan (outdoor)?

Kamera untuk indoor sendiri artinya kamera dapat dipasangkan pada langit-langit atau dinding suatu bangunan, fungsinya merekam segala aktivitas yang ada dalam suatu ruangan / area yang diawasi agar sesuai dengan peraturan penggunaan ruangan yang berlaku digedung atau hunian tersebut.

Lain lagi kamera untuk outdoor, kamera ini akan didesain khusus biasanya metal agar dapat tahan terhadap cuaca panas matahari, guyuran hujan, hingga aksi pengerusakan seperti pemukulan, pelemparan dengan batu atau pencokelan untuk mencopot bagian dalam CCTV. Selain itu juga, kamera luar ruang atau outdoor juga memiliki lensa khusus yang anti kabut saat hujan atau pagi hari.

2. Kamera CCTV Berdasarkan Fiturnya

Jika berdasarkan fiturnya maka akan lebih beragam lagi jenis-jenis CCTV, sebab masing-masing produk pasti menonjolkan sisi kelebihan yang menjadikan sebuah CCTV menjadi lengkap dan cocok untuk dibeli. Misalnya saja, fitur InfraRed (IR / IRDA) dengan hadirnya InfraRed pada CCTV, membuat kamera bisa memantau suatu area atau ruangan meski kondisi cahaya disekitarnya gelap. Selain itu juga, ada kamera PTZ (Pan-Tilt-Zoom), kamera jenis ini mampu berotasi baik berputar, naik turun, atau melakukan fungsi zoom.

3. Kamera CCTV Berdasarkan Output Gambarnya

Kamera CCTV berdasarkan ouputnya dibedakan menjadi dua, yaitu digital atau analog. Jika menggunakan kamera jenis digital, ini membuat hasil rekaman video dapat langsung dilihat pada perangkat komputer atau media player (DVD Player atau TV LED/LCD). Jika menggunakan kamera analog, maka hasil rekaman harus diproses dulu dalam perangkat tambahan yaitu DVR (Digital Video Recorder) agar dapat dilihat menggunakan monitor atau diproses di komputer.

4. Kamera CCTV Desain Bentuknya

Kamera berdasarkan bentuknya juga cukup beragam, yang paling sering dilihat ialah kamera berbentuk DOME (kubah), BULLET (peluru / bulat), ada yang berbentuk BOX (persegi panjang), dan ada juga yang berbentuk HIDDEN CAMERA. Untuk HIDDEN CAMERA artinya memiliki bentuk apa saja untuk menyamarkan bentuk asli lensa atau kamera. Misalnya berbentuk smoke detector, wall clock, mini camera, dan masih banyak lagi.

Itulah dia penjelasan mengenai berbagai CCTV yang banyak dijual dipasaran, mudah-mudahan dengan artikel ini, Anda semakin mudah untuk menentukan kamera CCTV yang tepat untuk mengawasi area atau ruangan yang ingin dipantau.

Mengenal Sejarah CCTV  – Sejarah penemuan teknologi CCTV pertama kali diluncurkan pada tahun 1942, saat itu negara Jerman sedang ingin melakukan uji coba peluncuran roket mereka yang diberi nama V-2. Peluncuran roket itu bukan hanya ingin disaksikan oleh pemerintah Jerman, sebab rakyat Jerman juga sangat antusias.

Antusiasme warga Jerman akhirnya disambut positif oleh Siemens AG, pembuatan CCTV saat itu dimaksudkan agar masyarakat dapat terhindar dari risiko misalnya terjadi ledakan pada saat peluncuran roket. Kamera saat itu pertama kali dibuat oleh Siemens AG, yang dipimpin oleh kepala penanggung jawab proyek yang bernama Walter Brunch.

Sementara itu jika beralih ke negara Amerika Serikat, pertama kali kamera CCTV di jual bebas adalah pada tahun 1949. Pada masa itu CCTV dikenal dengan nama Vericon. Sementara itu, untuk pertama kali CCTV digunakan di Amerika Serikat untuk mengawasi sebuah kota terjadi pada tahun 1973. Kala itu NYPD (New York Police Department) memasang CCTV untuk mencegah terjadinya kejahatan yang kala itu marak di Times Square, New York, Amerika Serikat.

Namun sebelum New York terpasang CCTV, Inggris memang diketahui lebih dahulu memasang berbagai perangkat CCTV di beberapa kota dengan tujuan untuk mencegah terjadinya aksi terorisme. Inggris menggunakan CCTV untuk mencegah aksi terorisme dengan menempatkan kameranya secara sembunyi untuk tujuan pengintaian dan keamanan negara kerajaan tersebut.

Berawal dari situ, CCTV berkembang ke berbagai negara sebagai salah satu teknologi pengamanan. Banyak sekarang ini CCTV terpasang di berbagai gedung perkantoran, lobby apartemen atau hotel, minimarket, di lapas (lembaga pemasyarakatan), rumah sakit, gedung-gedung vital negara dan lain sebagainya.

Di Indonesia sendiri, penggunaan CCTV baru mulai dikenal pada tahun 1995, memang penggunaan CCTV sendiri masih terbatas pada bank-bank serta pertokoan besar. Selanjutnya penggunaan CCTV mulai berkembang pesat paska kerusuhan Mei 1998, dan instansi kepolisian mulai menerapkan penggunaan Vidoe surveillance / kamera pengawas / CCTV di ruang publik sejak pertengahan 2004-an, namun masih terbatas pada pemantauan lalu lintas.